me my collage life and my dream

                I'm introvert person. like people say, they tend to be quite person, less social interaction, awkward easly, and so on. Hai, aku adalah seorang mahasiswa tingkat hampir akhir let say smt 7 disebuah perguruan tinggi swasta di Kota Malang.  Kebetulan saya mengambil sebuah jurusan yang pada awalnya karena aku kira jurusan tersebut sedikit mirip dengan jurusan yang aku inginkan yaitu Teknik Fisika, ternyata jurusan ini cukup berbeda karena merupakan pendalaman materi dari salah satu cabang ilmu fisika yaitu Teknik Elektro. Kenapa Teknik Fisika? well, aku orang yang cenderung suka mempelajari banyak hal namun secara umum saja. Nah dari informasi yang aku kumpulkan, di Teknik Fisika ini kita memperlajari hampir semua ilmu teknik in general baik teknik kimia, elektro, mesin, dan bahkan sedikit teknik informatika, namun sayangnya, universitas di Indonesia yang memiliki jurusan Teknik Fisika hanya terdapat 5 Universitas, setidaknya saat dimasa aku mendaftar kuliah. Yaitu ITS Surabaya, ITB Bandung, UGM Yogyakarta, Universitas Nasional Jakarta, dan Universitas Telkom Bandung. Sebelumnya ada upaya melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN bahkan aku mengikuti ujian mandiri di UGM namun karena kurang persiapan, nggak ada satupun dari upaya ku yang membuahkan hasil. Yah.. salah akunya juga sih, karena diawal masuk SMA aku nggak ada niatan untuk kuliah sama sekali, karena saat wawancara aku milih jurusan IPS karena berencaan untuk berbisnis, tapi tiba-tiba di smt 5 alias kelas 3 SMA, baru ada niatan buat kuliah, pada awalnya aku dapet informasi soal biaya kuliah di Jerman yang gratis dari teman sepermainanku dulu waktu kecil.Dari informasi yang sekedarnya itu, aku langsung bersemangat bercita-cita kuliah di Jerman, aku utarakan keinginanku ke ortuku, dan mereka mengiyakan. Kemudian untuk menindaklanjuti cita-citaku, aku ikut les bahasa jerman ditingkat pemula yaitu A1. Sembari menjalani per-sekolahan yang sudah kelas 3 dan mulai mendekati masa ujian nasional, mengikuti les bahasa Jerman, aku juga terus mencari informasi terkait studi S1 di Jerman. Dan sampailah aku pada informasi bahwa kuliah di Jerman memang gratis, namun ada sebuah kendala financial lain, yaitu setiap pelajar yang akan menuntut ilmu di Jerman, wajib memiliki deposit sebesar 8000 EURO waktu itu(sekitar 150 Jt an) yang nantinya dapat diambil tiap bulan saat kita berada di Jerman. Memang tujuan dibuat peraturan tesebut bertujuan baik, yaitu menjamin bahwa selama masa studi, si-pelajar tidak akan kelaparan karena kehabisan uang. Namun aku rasa hal itu memberatkan orangtuaku, sehingga saat ditanya kembali terkait rencana studi ke Jerman, aku beralasan bahwa aku nggak sanggup, aku belum siap menghadapi lingkungan Jerman. Sehingga akhirnya aku mendaftar dan diterima di Universitas yang aku tempati sekarang sebagai tempat studiku.
                So, akhirnya pada satu tahun pertama, setiap pulang dari kuliah, aku merasa kecewa, hampa, menyesal, dan dengan harapan bahwa tahun depan aku bakal nyoba daftar kuliah lagi di universitas dan di jurusan yang aku inginkan. Satu tahun berlalu, aku masih memiliki harapan untuk pindah universitas. Namun saat masa pendaftaran universitas baik jalur mandiri maupun jalur SBMPTN dibuka, aku mulai berfikir lagi soal bijak tidaknya untuk pindah ke tempat belajar tingkat sarjana di tempat lain. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk tetap melanjutkan berkuliah ditempat yang sama. Beberapa pertimbanganku waktu itu ialah soal waktu yang terbuang percuma selama satu tahun jika aku pindah universitas dan terkait biaya yang terbuang percuma juga jika aku memang jadi pindah universitas. Sebelumnya, aku memang tidak pernah mendiskusikan secara mendalam terkait masalah-masalah ku pada siapapun, teman, saudara atau bahkan orang tuaku, karena aku tipe orang yang cenderung berfikir sendiri untuk mencari solusi dari masalah-masalahku. Dan aku tipe orang yang cenderung sedikit bicara, ya aku introvert(tapi jangan salah diasosiasikan bahwa yang jarang bicara ialah seorang introvert, meskipun seorang introvert memiliki kecenderungan tersebut). Karenanya, hingga tahun keduaku, lingkaran pertemananku msaih cenderung sedikit, bahkan hanya sedikit manusia yang kukenal dalam satu kelasku. Namun aku nggak merasa terganggu dengan hal itu. Pada semestr 3 inilah aku mulai mengenal beberapa orang temanku, diawali dengan sesekali berkunjung ke kontrakan mereka, kemudian aku mulai nyaman dengan pertemanan tersebut hingga saat ini. Pada tahun kedua ini juga aku mulai merasa ada  sesuatu yang mengganjal. Dulu, salah satu pertimbangan memili jurusan pada suatu universitas adalah akrediatasi dari jurusan tersebut. Akreditasi yang tersemat pada jurusanku ialah B, mengalahkan akreditasi pada jurusan yang sama pada univ negeri sebelah, namun yang mengganjal bagiku ialah cara mengajar dosen yang ada.
          Pada tahun kedua tersebut, kami mendapat seorang dosen yang pasif dalam mengajar, cara mengajar beliau hanya dengan menampilkan slide, membiarkan kami menyatat, lalu bertanya “sudah?”, jika sudah lalu berlanjut pada slide selanjutnya, begitu terus hingga pada akhir slide belia bertanya “ada pertanyaa?” “kalau tidak ada yang bertanya, saya yang bertanya” kemudian belia menampilkan slide berupa soal latihan. Seperti itu terus menerus, sihingga pada mata kuliah itu, aku hampir tidak mendapatkan apapun. Meski dosen tersebut pernah menempuh pendidikan di Jepang, dan ibu kajur kami pernah berkata bahwa “beliau itu orang pintar” saat beberapa dari kami komplain mengenai dosen tersebut. Yah mungkin belia memang pintar dalam segi keilmuan, namun dari yang aku rasakan, metode mengajar, cara beliau mengajar, aku rasa kurang(maaf kan saya pak, saya mencoba objektif). Disitu aku berfikir, dulu saat kami masih berstatus pelajar SMA, guru kami sering mengatakan bahwa pada jenjang kuliah nanti, materi yang diajarkan dosen hanya sebesar 30% dan yang wajib kalian pelajari sendiri sebesar 70%. Disaati itulah aku sempat berfikir, mungkin ini yang dimaksud awktu itu. But, mas segitunya sih -,-. Alhasil sampai semester berganti, aku merasa tidak mendapatkan apapun selain nilai dari beliau.
          Pada tahun ketiga, aku mulai merasakan perubahan dalam diriku yang disebabkan oleh lingkungan pertemananku. Pada mulanya, aku suka sekali berolahraga, aku sering sekali joging, dan beberapa kali masih latihan parkour meskipun mulai jarang. Namun sejalan dengan seringnya aku mampir kekontrakan temanku, aku mulai kenal yang namanya game hp, karena kebetulan waktu itu aku baru punya hp android, for real. Jadi bukannya nggak bisa beli atau gimana, tapi memang orangtuanku yang terlalu menjaga. Game itu ialah Mobile Lagend, pada awalnya aku nggak tertarik sama sekali dengan game itu, karena game itu online, jadi aku nggak bisa seenaknya sendiri keluar dari game sebelum game tersebut selesai. Namun karena sekelilingku, banyak temanku yang memainkannya, akupun mulai penasaran(kalau dibilang, lingkungan tidak mempengaruhi kamu, itu bohong). Aku mulai menginstall game tersebut, awalnya ngerasa kesusahan karena sudah lama sekali nggak main game bertipe MOBA. Karena seringnya main game itu, aku jadi mulai terbiasa. Mulai dari penasaran, belajar, dan akhirnya sedikit ketagihan. Sehingga aku mulai jarang berolahraga, aku mulai sering tidur malam demi bermain game. Alhasil pola tidurku tidak beraturan, dan kebiasaan tidaur malem ku berjalan hingga sekarang. Dan sampai sekarang aku masih berusaha memperbaiki pola tidurku. Setelah beberapa kali aku main ML, aku sempat ganti hp dari iphone ke android lagi, dan tentusaja, akun ML ku tereset, sehingga aku memulainya dari awal. Nah saat aku berusaha menaikkan rankku, aku mulai mudah emosi dikarenakan teman setim yang kadang bikin kesel. Singkat cerita, ML sekarang udah aku hapus dan aku berusaha nggak nginstal lagi.
          Pada akhir tahun ketiga itu aku menjalani yang namanya PKN(Praktek Kerj Nyata) alias magang. Awalnya aku merasa kurang beruntung karena melihat dari tempat ku magang yang kurang waw dibandingkan dengan tempat temanku magang, namun dengan berjalannya waktu aku mulai merasa banyak pelajaran yang aku dapatkan disana. Aku mulai tahu bagaimana sebenarnya dunia kerja itu, aku merasakan bagaimana bekerja ditempat dimana kamu tidak ingin bekerja pada lingkungan seperti itu, dimana tujuanmu berangkat kerja hanya untuk menunggu pulang kerja, tentu saja gaji menjadi salahsatu tujuannya. terlepas dari itu, dari magang tersebut, wawasanku terbuka, aku mulai memilki cita-cita menjadi profesional disuatu bidang dan impian untuk lanjut studi diluar negeri mulai tumbuh lagi, meski sudah sempat tumbuh dikarenakan adanya informasi seputar beasiswa erasmus yang aku dapatkan dari kampusku. Singkat cerita, aku menjalani magangku dengan perasaan puas dan bahkan kurang, sehingga da kemungkinan dialin waktu aku bakal magang lagi ditempat itu.
          Tujuan studi luar negeriku bukan lagi Jerman, namun Swedia. Diawali dari sebuah fun fact yang pernah aku baca bahwa swedia sampai mengimpor sampah dari luar Swedia sebagai bahan pembangkit listrik mereka. Aku kagum dengan bagaimana pengelolaan, dan penggunaan limbah mereka, selain itu, dari informasi yang aku dapat, Swedia cenderung negara yang cocok bagi para introvert, karena negaranya yang tenang dan menghargai hak-hak individu. Disamping itu, Swedia juga memiliki prosentase jumlah penduduk penutur bahas inggris yang tinggi dieropa, sehingga tidak perlu repot-repot belajar bahasa Swedia sebagai persyaratan studi di sana. Namun masalah lain yang aku temukan adalah, untuk mendaftarkan beasiswa pemesrintah Swedia, kita perlu mencantumkan pengalaman kerja minimal 2 tahun atau 3000 jam kerja. Jadi sebagai fresh graduate, tentu saja kita bakal sulit untuk memenuhi syarat administratif tersebut, yang disayangkan lagi, beberapa informasi beasiswa yang aku dapat, untuk melamar beasiswa S2 memang dibutuhkan pengalaman kerja 2 tahun seperti milik Jerman melalui DAADnya. Sejak saat itu, passion untuk study abroad mulai sedikit berkurang, sampai akhirnya aku menemukan informasi seputar beasiswa pemerintah Belanda yang tidak mempersyaratkan pengalaman kerja sebgai persyaratan pengajuan beasiswanya. Ditambah lagi aku mendapat informasi dari seniorku bahwa di kampusku, karena terdapat kerjasama dengan erasmus, maka setiap tahunnya(meskipun tidak pasti) akan ada beasiswa selama satu semester dengan persyaratan yang tidak muluk-muluk dan dapat diikuti oleh mahasiswa semester tiga keatas, bahkan setelah skripsi, selama kym kita belum dibolongi alias wisuda.
          Disitulah, dari informasi-informasi itu mimpiku terkait study abroad mulai tumbuh lagi, dan semangat baru mulai muncul. Sejujurnya aku belum pernah mendaftar pada beasiswa apapun, namun apa salahnya berharap. Manusia boleh menggantung harapannya setinggi apapun, asalkan dia mau mengusahakan harapannya tersebut. I think.


Komentar

Postingan populer dari blog ini